Heading for Harmony

 

Promise me that you shall grow
In every step of truth
Emulating a bird that flies with no sorrow
Rendering power of its own fate, and
Rain has not come to back you off
Essentially you are what you need to be

Even in calamity and silent agony, oh
Maintain patience and faith
Merely God touches you in His path
Alike others that do embrace
Never do you need be doubtful
Unity will be yours, will be yours
Everywhere you go spreading seeds of peace
Light will be with you as He promises

So long, so long you’ve waited
Creeping up for a maiden’s smile
Hope you know and then read
Everything that you expect to meet
It is today when you write your history
Defining where you head for a harmony.

image source: www.taragon.net
P.S. This poem is specially presented for a Belgian man who was married to a friend of mine several years ago in Semarang. This very poem was once recited before him right on his birthday. (Surely before we enjoyed the tasty ‘jagung bakar’ in that cold night :p

Teladan: antara Menampilkan dan Menunjukkan

Minggu-minggu awal setelah kelahiran anak kami yang pertama, beberapa teman dan keluarga berkunjung ke rumah kami untuk memberi selamat dan tentu saja turut mendoakan bayi yang baru lahir. Dari sekian tamu yang datang berkunjung, mereka rata-rata telah berkeluarga dan dikaruniai seorang anak atau bahkan lebih. Maka sebagai orang tua baru, kami tentulah membuka diri terhadap berbagai masukan tentang cara menangani dan merawat bayi yang masih merah—mengingat orang tua kami tinggal di kota yang berlainan. Mereka pun tak segan berbagi ilmu dan pengalaman perihal perawatan bayi. Ada yang sifatnya ringan seperti curhat, ada yang cerewet melebihi ibu sendiri, bahkan ada yang lebih galak dan sok tahu daripada dokter.

Terjebak periodisasi

Namun saya paham betul bahwa muatan dan semangat mereka sama, yaitu membantu. Dan secara umum pembicaraan biasanya berkisar pada periode dan beratnya perawatan bayi. Ada yang bilang, periode paling berat dan melelahkan dalam merawat bayi adalah usia 0 sampai 3 bulan karena bayi masih sering buang air, baik kecil maupun besar, sehingga orang tua harus siap capek—terutama saat malam hari di mana begadang adalah rumus pasti. Tak jarang mereka menakut-nakuti saya soal berapa kali bayi akan terjaga di malam hari dan betapa beratnya didera kantuk akibat begadang.

yuninasir.blogspot.com

Ada lagi yang mengatakan bahwa periode sulit akan lewat setelah bayi berusia 1 tahun sebab pada usia ini bayi sudah bisa mendapat asupan makanan tambahan dan relatif bisa diajak berkomunikasi, serta cukup nyaman saat digendong. Sementara yang lain lagi berpendapat bahwa masa-masa sulit baru akan berakhir ketika anak mencapai usia 5 tahun sebab rentang 0 – 5 tahun biasanya rawan cobaan kesehatan fisik.

Ketiga pendapat itu memang benar adanya, terlepas dari pengertian kata ‘sulit’ yang tentu bisa sangat relatif. Setelah saya renungkan bersama istri, ternyata periodisasi semacam itu bisa sangat menjebak dan kontraproduktif. Secara pribadi saya berpendapat bahwa tugas orang tua tidak akan pernah mudah, dan ini tidak mengenal kompartmen tahapan rentang usia. Artinya, orang yang mendapat amanah sebagai orang tua memiliki tugas dan tanggung jawab berkesinambungan yang tidak tidak selalu mudah dan ringan. Sekali lagi, dua kata sifat terakhir ini juga akan sangat relatif makna dan implikasinya bagi masing-masing orang tua.

Beda usia, beda tantangan

Yang jelas, pertumbuhan dan perkembangan usia anak akan menghadirkan masalah, kesulitan, dan tantangan berbeda-beda. Kegembiraan yang muncul pun bervariasi, mulai dari yang sederhana hingga yang luar biasa. Dengan demikian, orang tua harus selalu siap dan waspada terhadap kejutan-kejutan yang mungkin muncul, kecenderungan-kecenderungan yang mungkin mengemuka serta potensi diri yang dimiliki sang anak. Dengan bekal yang memadai baik menyerap dari pengalaman orang lain maupun dari buku, orang tua paling tidak akan mampu menguasai emosi sendiri dan mengendalikan situasi.

Barangkali tugas yang paling berat bagi orang tua adalah Continue reading

THE POWER OF POWERLESSNESS

medtips.inBeberapa hari yang telah lewat, tepat saat azan Maghrib berkumandang kompor di rumah kami tiba-tiba padam seketika. Dugaan kami tidak meleset: gas elpiji dalam tabung sudah tandas; pantas air yang sedianya untuk memandikan Rumi anak kami tak kunjung mendidih. Maka kami segera menghubungi warung depan rumah untuk membeli tabung gas yang penuh dan siap pakai. Kami hanya bisa gigit jari ketika ternyata tak ada tabung yang terisi. Namun syukurlah air dalam teko sudah cukup panas untuk mandi hangat meskipun tak sampai bergejolak pada titik 100°C.

Setelah bergantian shalat Maghrib, saya segera menuju kamar mandi untuk memandikan Rumi sementara istri saya kembali ke warung depan untuk memesan mi rebus siap santap. Kami didera rasa lapar setelah seharian beraktivitas di luar. Perlu diketahui bahwa rumah kami terletak di kampung yang meskipun tak terlalu jauh dari jalan besar, namun cukup membuat malas untuk keluar rumah karena kondisi jalan yang belum sepenuhnya nyaman. Terlebih jika tak ada kendaraan pribadi. Memang ada akses ojek namun mereka tak bisa diandalkan setiap saat.

Singkat kata, Rumi sudah segar dan yang kami tunggu pun tiba. Sebuah ketukan dan salam menghampiri pintu rumah. Saat dibuka, Pak Haji pemilik warung berdiri dengan dua mangkuk mi instan rebus di tangannya. Asap berkepul Continue reading