This is nobody’s universe
life of an unknown entity
morning is morning, very old
and night swivels around
carrying a piece of pain’s history
this part of adventure, very old
what’s older is our sanity
our sonorous journey
those homely decayed Mondays
are trimming, and keep trimming
snatching away any visual memory
places that shine powerlessly
with might and altered energy
will they just let you speak up
uttering nobody’s words
into which we’re swooped
—being swollen
which life is mine, which is yours
we’re too old to know
that there’s a shimmer anyway
in every path of whose destiny
Tag Archives: goresan
Legacy
More, more on touch
that sends you around the moment
of any spoken emotion
of every rained demolition
and I shall chase you somewhere
To designate a complete feeling
in this very absolute temptation
which you find yourself gone
vanishing before days melt
on your transparent dreams.
Syair Sederhana tentang Ibu
/I/
angkasa yang bijak
memahat cintamu
dan menyirami bumi
dengan pelangi
keindahan semerbak
merekam cahaya
di dalam benak
yang maha wanita
tegak berdiri
memeluk semesta
dengan puisi
ibu berkata lewat cinta
ia bertutur dalam syukur
hatinya embun
yang merekah
menyegarkan mimpiku
senyumnya rembulan
yang membara
meremajakan langkahku
aku makin habis
saat menembus
lapis-lapis kasihmu
/II/
engkau kata
yang tak habis kueja
metafor canggih
Continue reading
Februari VI
Apakah hujan mesti ditakuti
padahal kehilangan demi kehilangan
telah menjadi semangatmu
untuk meledakkan anatomi waktu
sebelum langit meludahi bumi
sebelum anyir membanjiri dukamu
Februari V: the Butterfly
siapa yang bekerja
memutar kesunyian ini malam
dan aku tak sanggup merekam
keriap atau gejolak
hanya sepercik bintang
tertancap di ujung langit
lihat, hoi, lihat
amboi ia gemebyar
seperti kupu-kupumu
hinggap di pucuk bougenville
menularkan warna
namun aku tak punya nyala, atau sayap
tapi aku bisa terbang
melesat ringan
menuju angkasa di batinmu
Februari IV
hilang ya
ya hilanglah
keriput zaman
di kelopak mataku
setiap kali kukedipkan
berlinang ya
ya berlinanglah
kisut alam
membaringkan suara
di pucuk waktu
yang selalu pecah
hilang ya
ya hilanglah
Februari III
pelan-pelan kubaca yang redup
itu rembulan di balik jaring-jaring
tak berdaya memadamkan sunyi
cinta dan api yang kamu percikkan
sungguh tak pernah menjadi nafas
memang tak menyimpan nafas
mari membaca yang kian redup
itu rembulan sinarnya habis terkuras
Februari II
Hujan mati suri
disihir Valentine yang jahat
rembulan bangkit dari rerumput mimpi
menyala, bagai ingin dipahat
sambil meneguhkan gelap
sementara cinta hanya seanggun sulap
Februari I
setelah hujan mati
rembulan lalu tumbuh
menajamkan risau entah rindu
pada kedalaman segumpal hati
sinar yang mengalir pada angka kalender
mengunci sujud di titik paling lemah
maka di mana saja air memilih sumber
di situ luka-luka melahirkan malam, mungkin langkah
hujan mati
dan rembulan runtuh
membusuk menjadi sajadah