BELALANG CEREWET

harus ada yang bawel

#Postcard Fiction: (Bukan) Gerimis Terakhir

Deana,
Ketika rumput basah dan pohon-pohon menggigil, kau berujar lirih, “Inilah gerimis terakhir yang akan menghapus sisa jejak kita.” Jujur saja aku tak terlalu paham maksudmu. Namun aku ingat kala itu kupeluk Sinta erat-erat karena ku tak mau terpisah darinya. Entahlah apakah dia mengerti apa yang kita perbincangkan di taman itu. Mata eloknya tetap berbinar mengalahkan pendar lampu taman. Aku yakin Read the rest of this entry »

14 Comments »

#Postcard Fiction: Rembulan Mengantarnya Pulang

/I/

Cahaya rembulan perlahan pupus oleh serbuan air yang terhempas bebas dari langit. Petir dan guruh bergantian membelah malam yang beku. Sebeku hati Hans yang diliputi kabut kebimbangan. Sesekali angin tipis tedengar bekesiur di antara pepohonan randu dan akasia. Himpunan bambu berkerisik menciptakan musik aneh yang menakutkan. Hans serasa kian tenggelam dalam mendung yang kelam. Namun kabut gelap itu sedikit tersingkap saat ibunya muncul dengan secangkir kopi.
“Jangan kecewakan anak-anak,” ujar ibunya singkat seraya mengangsurkan cangkir itu.
“Tentu saja Sam dan Widi jadi perhatian utamaku, Bu.” Hans melepas pandangan, lalu meraih cangkir kopi dan mereguknya.
Read the rest of this entry »

8 Comments »

Yang Tersisa Dari Peluncuran The Coffee Shop Chronicles: Kedai Kopi dan Rahasia yang Tak Pernah Usai

MINGGU, 3 Juni 2012. Setelah membayar dua buku karya Yusuf Mansur pesanan adik saya, saya bergegas meninggalkan TM Bookstore DETOS. Berbeda dari hari-hari lain, udara Depok terasa sejuk dan langit pun bersahabat dengan memekarkan selaput mendung siang itu. Maka langkah saya menuju Gramedia Depok terasa ringan dan penuh semangat. Kaki-kaki menapaki anak tangga jembatan penyeberangan dengan mantap hingga akhirnya tiba di musala yang terletak di lantai bawah. Istri dan anak saya telah menunggu di sana. Kami berdiam sejenak sampai Ashar. Saya pun sempat membuka komputer jinjing untuk mengecek email masuk. Setelah itu barulah kami bergerak ke lantai dua Gramedia.

Buku yang terbungkus rapi
Dentum musik yang cukup kencang dari video primaraga di lantai 1 ternyata berhasil meredam dan bahkan mengalahkan gebyar acara peluncuran buku yang sudah dimulai saat kami tiba di lantai dua. Lokasinya tepat berada di ujung dekat jendela; mewah dan elegan—itulah kesan yang segera muncul kali pertama saya melihat backdrop acara. Hanya saja, acara yang harusnya menarik tersebut tidak langsung terlihat saat pengunjung Gramedia sampai di lantai dua. Pandangan mata langsung tersaput oleh deretan rak-rak tinggi dan rapat yang otomatis menghalangi pengunjung mengetahui kesibukan yang berlangsung di seberang ruangan. Sebelum sampai tepat di tempat, saya sempat berpikir bahwa suara seseorang di mikrofon adalah pegawai Gramedia yang memperkenalkan buku baru terbitan mereka.

Ternyata acara peluncuran buku telah dimulai, dan suara yang beberapa saat sebelumnya terdengar adalah suara moderator acara. Kami terlambat beberapa puluh menit. Ketika mengambil tempat duduk, kami melihat sembilan penulis duduk berderet di depan—tengah diwawancarai oleh moderator. Sayang sekali, moderator tidak berhasil menghadirkan ‘interogasi’ yang cantik terhadap para penulis karena ia (lucunya) belum membaca isi buku yang tengah diluncurkan. Ia memang terlihat memegang satu kopi buku TCSC, tapi mata saya jelas menangkap bahwa buku itu masih rapi terbalut kemasan plastik. Dia sendiri pun secara gentle mengaku bahwa ia belum membaca himpunan kisah dalam TCSC dan berjanji akan segera membacanya. Bukankah sudah terlambat? :(

Antara bingkisan dan keingintahuan
Walhasil, acara peluncuran yang saya bayangkan akan mengulik proses kreatif para penulis secara lebih mendalam, akhirnya berjalan biasa saja—walaupun tetap menarik. Selain ketiadaan musik yang mengiringi acara, antusiasme peserta terhadap karya yang tengah dibahas juga tidak terlalu kuat. Terbukti dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul (menurut saya) bukan jenis pertanyaan yang bisa menggali potensi buku yang merangkum 33 kisah pendek tersebut. Ketika moderator akan membuka sesi bertanya dan setiap penanya dijamin akan memperoleh bingkisan dari penerbit, segeralah lima orang mengacungkan tangan. Tapi menilik materi pertanyaannya, selain lelaki bercelana tiga perempat itu :D , para penanya tampak sekadar ingin menyabet Read the rest of this entry »

6 Comments »

Bocah Tua Nakal dan 3 Gigitan Belalang Cerewet

Entah sejak kapan saya menyukai karya fiksi. Yang jelas membaca tulisan bergenre fiksi sangat menghibur dan menyenangkan. Dulu ketika masih kuliah—saat badan agak meriang, lidah mulai terasa pahit, dan rasanya tak semangat beraktivitas—saya biasanya segera meluncur ke Read the rest of this entry »

9 Comments »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 80 other followers