Setangkai Rumput Kering dalam Gulungan Surat Cinta yang Mengalir menuju Samudra dalam Siraman Cahaya Rembulan Pucat Dini Hari Itu Akhirnya Menjadi Kidung Misteri dan Eulogi bagi Sang Kapten Sebelum Cinta Biru Menyambutnya Begitu Damai

“Percuma aku jadi kapten,” berulang-ulang Kapten Bhirawa mengucapkan kalimat itu. Seolah kata-kata begitu saja terletup dari bibirnya. “Percuma. Percuma, percumaaaa…” tiba-tiba suaranya melengking, meraung-raung membelah kesunyian malam.
Continue reading

Elegi Petis dan Kaos Kaki

Orang mengenal kotaku sebagai Kota Tahu Campur. Namun tak sedikit yang mengenal kampung halamanku dari begitu banyaknya warung pecel lele dan ayam yang menjajah bahkan hingga ibukota Indonesia. Soto racikan khas kotaku juga telah merambah puluhan daerah. Begitu populernya, di beberapa tempat aku bahkan pernah menjumpai soto khas kotaku dijajakan oleh orang dari kota lain. Tentang kekayaan kuliner lokal, mari kita simpan untuk dikulik suatu hari nanti. Sebab kali ini pikiranku berayun dari lesatan memori menyakitkan tentang petis dan kaos kaki menuju kerinduan yang tak punya nama.
Continue reading

Harga Sebuah Komentar

KBBI IV mendefinisikan komentar sebagai “ulasan atau tanggapan atas berita, pidato, dsb. (untuk menerangkan atau menjelaskan)”. Dari pengertian ini jelas bahwa sebuah komentar dibuat untuk menanggapi suatu teks, entah teks lisan maupun tulisan. Menurut pengertian itu pula, walaupun terdapat kata ‘ulasan’, himpunan kata tidak membutuhkan syarat yang ketat agar bisa disebut sebagai komentar. Kata-kata yang bisa dikategorikan ke dalam komentar tidak harus mengulas atau mengupas sesuatu dengan detail dan kritis—walaupun itu tentu saja sangat bagus. Dengan demikian, “Bagus!” atau “Wah, lagi hepi banget ya?!” atau “Enggak banget deh!” bisa dengan mudah kita nobatkan sebagai komentar.
Continue reading

Jengkol: Dari Cinta, Sahabat, hingga Perang Troya

/I/
Jengkol dan UN 2013
Anda tak tahu jengkol? Belum pernah lihat keping cokelat kehitaman ajaib ini? Tak pernah sekali pun mencicipi kelezatan salah satu kekayaan nabati nasional ini? Bahkan mendengarnya pun belum pernah? Kebangetan. Kata Bang Haji: sungguh ter-la-lu.

Jika sahabat mengikuti kabar tentang karut-marutnya penyelenggaraan UN Continue reading

Success atau Suck-Yes?

Catatan: sebenarnya saya telah bertekad untuk selalu menuliskan judul semua postingan dalam bahasa Indonesia. Dalam beberapa kasus, ternyata bahasa asing (dalam hal ini bahasa Inggris) kadang terasa lebih efektif untuk mewakili gagasan tulisan keseluruhan sesuai dengan konteks. Mohon maaf bila sahabat tidak nyaman dengan hal ini.

Kira-kira di penghujung tahun 2005 saya mendapat tawaran untuk bekerja di Lampung. Seorang teman menuturkan bahwa temannya yang mengelola sebuah bisnis pendidikan bahasa asing di sana tengah berencana melakukan ekspansi dan memerlukan seseorang sebagai mitra—baik untuk bertukar ide maupun mengelola lembaga yang ia miliki. Soal gaji bukan lagi masalah. Saya bahkan dijanjikan akan mendapat sekian persen dari keuntungan yang diperoleh. Gaji yang ditawarkan mungkin sepuluh kali lipat dari gaji saya mengajar di Semarang saat itu. Sungguh tawaran yang menggiurkan!
Continue reading

Akhirnya

akhirnya semua basah
kecuali kenangan yang gagap mengeja cahaya
dalam kabut
masa lalu menggigil. membuka rahim alam
sebelum dedaun pinus, atau cemara
mengasingkan diri ke dalam rasa sakit yang tak pernah padam.

akhirnya hanya ada resah
mengunci segala kata segenap suara
pada diam matahari
pada demam memori

keabadian telah sah
tumbuh begitu asing
seperti rasa lelah
melukai usia berkeping-keping
hingga maut dan laut
tak menyisakan rindu
walau sejumput

akhirnya inilah kisah
kebodohan terus ditulis
pada selembar semesta
dan jarak tak mungkin dikikis
dengan selaksa doa
atau sebaris wahyu yang merana

biarlah kenangan tersesat
dalam rimba yang kita ciptakan
agar harum cahaya sanggup melesat
ke relung nurani yang telah karatan
agar hening terus berpijar
mengawetkan bening pada daun-daun

sayup-sayup kabut mencair
meneteskan air mata paling rahasia
dan basah kuyup kita dalam embun sihir
sebelum bumi mengelupas—
dan melahirkan kita dalam percikan dosa.

akhirnya semua basah
akhirnya semua rebah
kecuali hati yang gagal menangkap firman
akhirnya merekah
akhirnya membuncah
setitik manusia yang kosong.
yang kosong.
yang kosong.

Orang Jawa Dilarang Jadi Penyiar

/1/

Kira-kira di penghujung tahun 2006 seorang teman memberitahuku tentang lowongan sebagai Voice Over (VO) di salah satu stasiun televisi swasta, yakni TV7 (kini Trans7). Kala itu aku baru beberapa bulan bekerja sebagai editor di sebuah penerbit buku sekolah di Bogor. Karena gaji yang kudapat termasuk kecil (bahkan tetap kecil sampai aku berhenti kerja dua tahun kemudian:), aku pun segera mengirimkan aplikasi via email ke stasiun tersebut. Bekerja di stasiun teve di Jakarta tentulah bergaji besar, pikirku waktu itu. Maka informasi itu pun tak kusia-siakan.

Bagi sahabat yang belum akrab dengan istilah ini, VO adalah Continue reading

Menulis Dan Membaca Puisi Itu Menyehatkan: Terbitkan Puisimu Bersama Warung Blogger!

objectandline.co.uk

objectandline.co.uk

Tentang Psychopoetry

Di Amerika konon warganya cepat tergerak untuk mencari pertolongan bila mereka dilanda kecemasan terus-menerus atau depresi seringan apa pun. Menemui psikiater bukanlah hal tabu di sana—berbeda dengan di negeri kita yang akan segera dianggap sakit ingatan atau gila. Sebagai akibatnya, orang cenderung malu atau segan mencari bantuan ahli jiwa saat mereka diterpa masalah batin yang berat. Akhirnya, mereka pun memilih untuk menutup diri atau menceracau tak keruan di dinding facebook.

Continue reading

Sensasi Menyantap Ramen Makarticho

Emak, aku sudah punya cucu
Jangan lagi kau marahi aku
Walau kau punya cucu
Kau tetap anakku

Emak, aku ini Purnawirawan Jenderal Bintang Satu
Jangan kau atur-atur aku
Aku panglima besarmu
Masih punya hak mengaturmu

Emak, sudah 62 tahun lebih umurku
Jangan ikut campur urusanku
Aku lebih tua dari kamu
Urusanmu juga urusanku

Emak, aku sudah banyak ilmu
Jangan kau mengguruiku
Ilmumu tak setebal kulit ariku
Aku tetap guru hidupmu

Emak, mengapa kau lakukan itu
Apakah kau tak mempercayaiku
Karena engkau adalah anakku
Mutiara dalam hidupku

***

/I/

Kantong air mata saya tiba-tiba menggelegak serampung membaca puisi ini. Kekaguman yang membuncah saat menelusuri larik-larik puisi tersebut seketika pecah menjadi butir kerinduan sekaligus rasa bersalah. Memang air mata tak sampai berlelehan, namun gejolak hati jelas tak bisa saya tahan. Kerinduan untuk bertemu ibu segera menjalari tubuh saya. Namun pada saat yang sama bilur-bilur luka tampak begitu jelas pada orangtua tunggal saya itu. Ya, itulah keropeng yang saya guratkan. Sepeninggal ayah saya, rasanya belum ada kebahagiaan yang telah saya berikan atau bahkan cipratkan kepada ibu.

Sebaliknya, hanya rasa sakit dan kepiluan yang saya paketkan kepada wanita perkasa itu. Betapa sesekali ibu terkesan mengatur kehidupan keluarga saya yang berujung pada rasa jengah dan kesombongan saya. Dengan ilmu dan pengalaman saya (yang sebenarnya sangat terbatas), saya seolah tak butuh lagi nasihat atau usulannya. Semua yang ia sampaikan hanya hadir sebagai intervensi yang menyakitkan. Puisi pendek di atas sedikit banyak telah mewakili potret kehidupan saya, walaupun usia saya terpaut jauh dari penyair. Continue reading